Tampilkan postingan dengan label feels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feels. Tampilkan semua postingan

Lost

It's been days, months.

Yet I still here, sitting in the back on my mind.

Trying to escape, finding a way out.

If there is a way out.


Can't write, can't read, just do what a fool does.

Then at this state, I realized, everything's indeed useless. What's broken beyond repair, can't be fixed anymore.

It's final.

It's time to say goodbye, properly.

This Fort

"Benteng ini, mau didobrak pun nggak bisa, bentengnya nancap ke tanah dan menembus ke langit. Kalau mau komunikasi harus teriak-teriak karena bentengnya tebel. Kalau mau sentuh, nggak bisa. Udah saatnya putar balik. Tapi, bukan berarti nggak pernah kesitu lagi buat ngecek keadaan yang ada di balik benteng."
 -@vitdgaf

Should I Give Up?


Another heartless conversation, another “I-didn’t-understand-what-you-were-wanted” act, again, with my most beloved person on earth, sampai-sampai tidak ada cara maupun kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya selain dengan air mata.

Aku iri pada Alif Fikri dalam Negeri 5 Menara. Alif yang orangtuanya ‘memaksa’ ia untuk menjadi santri sementara desakan hatinya hanya di jurusan Teknik di ITB. Alif yang akhirnya menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan, hanya demi orangtuanya. Alif yang pada akhirnya menemukan keluarga dan sahabat baru dengan berkelana. Alif yang menuruti dua orang yang paling ia cintai, dan pada akhirnya ia sukses—walau tersiksa dalam proses awalnya—baik secara batiniah maupun lahiriah.

Aku ingin melakukan apa yang Alif lakukan, tapi entah kenapa ada suara-suara dari perasaanku yang mengatakan kalau aku tidak bisa. Bahwa dari setahun yang lalu, aku sudah membuat keputusan yang salah. Suara itu berujar, kalau sampai 4 tahun kedepan aku memaksakan kehendak, aku tidak bisa membayangkan lagi, betapa kacaunya aku kedepannya.

Berkali-kali argumen ini terjadi. Berkali-kali aku tidak pernah menang. Sekali aku berusaha menerapkan cara menang-menang, which means nobody lose at the debate. Aku berusaha menunjukkan kakak kelasku yang masuk ke jurusan yang tidak ia inginkan lalu menjadi ‘gila’, tidak betah, frustasi, di tahun pertamanya. Respon yang kuterima: “Lihat saja nanti kedepannya kalau dia udah sukses. Pasti dia akan berterimakasih sama orangtuanya.” Respon yang kubalas: “Baiklah.”

Ternyata tidak sampai beberapa bulan yang lalu, kakak kelasku itu sudah berbahagia. Menapak dunia dengan percaya diri lagi. Karena sudah pindah ke jurusan yang benar-benar ia perjuangkan.

Aku takut. Takut akan menjadi seperti kakak kelasku itu pada tahun-tahun yang menentukan di masa depan. Takut Tuhan akan menghukumku karena tidak berkaca pada pengalaman yang sudah Ia sodorkan.

Karena sesungguhnya, aku tidak ingin menjadi seperti Alif Fikri. Aku ingin menjadi seperti Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara.

Apa yang aku inginkan di masa depan adalah lebih banyak buku, lebih banyak ilmu mengenai bahasa dan bagaimana bisa membuat mereka gemulai di atas secarik kertas, memainkan mereka dengan merdu, juga mengolah mereka agar sedap untuk dihidangkan. Tulisan selalu mempengaruhiku. Tulisan itu universal. Meskipun aku tidak mempunyai bakat di bidang ini, tapi minatku meluber memenuhi pikiranku, setiap hari.

Dengan tulisan, aku merasa aku menghargai diriku sendiri dan dapat membantu masyarakat. Aku suka bertualang di setiap cerita dan pengalaman, lalu mengolah rangkaian huruf yang tepat untuk membuat orang-orang mengabadikan, mengingat, menjaga kenangan mereka dengan membacanya. Aku suka membantu mendengarkan keluh kesah dan merasa tersanjung kalau kata-kata yang kupilih dapat menyapu perasaan negatif dan menarik rasa yang lebih baik.

Dengan kata-kata, aku bisa berkelana kemanapun aku mau, ke dunia dimana tak seorang pun pernah mengunjunginya, ke kota dan pulau dengan namaku sebagai pemiliknya, sementara tubuhku tetap diam dan duduk di tempat.

Tidak bisakah aku untuk merasakan bahagia di dunia yang kupilih? Dunia yang pasti tidak akan membuatku bangkrut. Dunia yang tidak akan memecatku ataupun meninggalkanku. Dunia yang tidak menganggapku sebagai butiran kerikil di tapak sepatu.

Tidak boleh ya aku menganggap serius duniaku, bukan hanya sekadar hobi? Memang, duniaku bisa dipelajari secara autodidak. Ilmu murah, kalian bilang. Tidak menguntungkan. Tapi, dualitas selalu berlaku. Ada sisi negatif dan positif di semua dunia, Yah, Bu. Dan aku tidak mau menghabiskan masa hidupku dengan menyesal di sisi negatif dari dunia lain. 

Aku sayang kalian. Semoga suatu saat kalian mengerti.

Orang Tersabar di Dunia

Dari dulu, aku merasa mempunyai tiga orangtua. Satu Ibu, satunya Ayah, dan yang terakhir, ada Pakde.

Sejak dari aku lahir, Pakde sudah bersama-sama dengan keluarga kecil kami yang terdiri dari lima orang. Pakde selalu ada, biasanya hanya untuk mengecek apakah kami, tiga keponakannya yang masih kecil ini sudah makan, ataukah ada keperluan yang bisa ia belikan untuk kami pada hari itu.

Dari kecil, aku dimanja. Kalau sedang tengkar dengan Ayah, dan Ibu tidak bisa diajak berkompromi, selalu ada Pakde. Pakde tidak pernah marah. Satu kali pun, tidak pernah. Dulu saat aku sedih, aku suka berlari-lari lalu memeluk kaki Pakde dari belakang, dan tidak mau kulepas lagi. Saat aku nggondok dengan Ayah-Ibu, biasanya Pakde cuma diam sebentar lalu berkata, "Nanti mau dibeliin es krim kalau Pakde keluar?". Semua itu rasanya seperti suplemen kekuatan hari demi hari, suatu rasa nyaman yang menjamin aku untuk tidak pernah merasa sendiri, karena ada Pakde.

Karena Ayah dan Ibu sibuk, aku selalu bersama Pakde, baik berangkat maupun pulang sekolah, baik pergi ke tempat les sampai ke mal untuk mencari keperluan-keperluan. Selalu.

Pertama kali aku melihat Pakde marah adalah saat aku kelas 1 SMP. Saat itu, beberapa menit sebelum pulang sekolah, aku tanpa ijin (karena handphone-ku mati) digonceng oleh temanku untuk pergi ke rumah sahabatku karena ia sedang tertimpa musibah. Aku begitu khawatir dengan sahabatku sampai tidak memikirkan hal-hal lain. Saat kembali ke sekolah, rasanya jantung sempat berhenti berdenyut sedetik melihat mobil Panther Pakde sudah terparkir di halaman. Lalu datanglah Pakde, dan sepanjang perjalanan pulang aku menahan tangis karena sudah membuat Pakde marah setelah sekian tahun lamanya.

Banyak sekali hal yang tidak bisa dijabarkan mengenai Pakde-ku, orang tersabar di dunia, orang yang paling kusayangi kedua setelah orangtuaku. Aku harap, beliau sehat selalu, sehingga aku bisa terus bersama-sama dengan Pakde, selama mungkin. Semoga kedepannya, aku bisa membahagiakan Pakde, seperti Pakde selalu membuatku tertawa disaat aku merasa capek, baik fisik, pikiran, maupun hati. Aku harap, kedepannya aku bisa ganti merawat dan mengerti Pakde, seperti beliau merawat dan mengerti aku semenjak aku masih bayi sampai sudah mau kuliah seperti ini.

J'aime, Pakde 

...............................................

Aku, waktu masih umur 5 tahun, pada sebuah sore di garasi, di gendongan Ibu.

"Ma, Pakde kalau nyetir kok lambat banget sih?"

"Nyetir apa?"

"Ya itu Ma, kalau lagi naik motor sama Pakde, Frea mesti disalip sama mobil-mobil. Kalau lagi naik mobil, motor-motor rebutan ngeeeng ngeeeng ngelewati mobil Pakde. Maunya yang cepet Ma."

"Itu tandanya, Pakde sayang sama kamu. Pakde pelan-pelan itu, supaya lebih hati-hati dan gamau kamu kenapa-napa."



.............speechless kalau ingat-ingat ini. I really love you, Uncle, I did.

Kimi, Jawab Ini.

Kimi,

Rasa yang kurasakan, mulai terasa aneh. Rasanya rindu. 

Tapi, bukan untuk Kimi lagi.

Munafik kalau aku bilang aku tidak capek menunggu. Rasanya berat, mengetahui bahwa semakin hari kita akan menjadi semakin jauh. Mengetahui bahwa kamu hanya sekedar mengenal aku, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk merajut tali pertemanan yang lebih dekat.

Mungkin dahimu akan berkerut mengingat aku pernah berkata 'aku sudah menunggu selama berbulan-bulan, maka beberapa bulan lagi akan terasa baik-baik saja', namun sekarang aku malah menikung kata-kataku sendiri. Maaf. Faktor terbesar yang patut disalahkan adalah diriku sendiri, memang. Tapi, aku harap kamu mengerti, tidak mudah melihat kamu seperti itu.... Melihat kamu sekarang dekat dengan temanku sendiri.

Kadang kala aku berpikir, mengapa aku dulu menyukaimu, ya, Kim? Katanya, tak kenal maka tak sayang. Tapi, aku kok sudah suka sekali bahkan sebelum kita saling kenal?

Dari dulu aku sudah bertekad untuk tetap diam, berharap kalau memang jodoh itu ada, benang merah itu ada, takdir itu ada, kita akan bersatu bagaimanapun caranya. Tapi, kok berat ya, Kim? Mungkin aku memang seperti remaja kebanyakan. Labil, dan butuh kejelasan. Yang akan melengos meninggalkan sesuatu yang tidak pasti dan beralih ke 'hal' lain.

Aku harus bagaimana, ya? Bingung, Kim. Bantu aku menjawabnya, bisa?

In Love with Fantasy

When you're in love, who or what are you in love with?

Aku memikirkan kata-kata ini, terus dan terus, mencari maknanya.


Dari dulu, aku suka membaca buku. Aku selalu berpikir, kalau nanti aku sudah cukup besar untuk memahami perasaan, aku ingin bersama dengan orang yang suka membaca. Pasti asyik, setiap hari aku bisa bertukar pikiran mengenai buku yang kusuka dengan orang yang aku kasihi. Pasti asyik, kami dapat saling bertukar informasi soal toko buku yang lengkap dan murah, atau bahkan membaca bersama di perpustakan. Pasti asyik.

Dulu, aku tidak suka yang namanya olahraga. Cabang apapun. Kalau keluargaku sudah ribut membicarakan sepak bola, aku berdiam diri sambil acuh mengangkat bahu, tidak mau mencari tahu. Aku berpikir, kalau sudah besar nanti, jangan sampai orang yang aku kasihi suka hal-hal yang berbau sepak bola, berisik.

Dulu, aku suka melukis. Rajin ikut perlombaan mewarnai dan menuai pujian di sana sini. Tapi sekarang, setelah aku meninggalkan kuas-kuas karena perhatianku teralihkan, aku sudah lupa caranya menggambar. Lalu timbul keinginganku untuk bersama dengan orang yang mahir melukis, menguasai seni. Karena seni, berkreatifitas, adalah hidupku.

Dulu, aku suka bermain musik. Rajin memencet tuts-tuts piano, rajin olah vokal. Tapi lama-lama, aku bosan. Aku berpikir, sudahlah, biar orang yang aku kasihi saja nanti yang bermain musik untuk mencerahkan hari-hari.

Dulu, aku suka hal-hal yang berbau automotif. Mobil sport, dan semacamnya. Aku ingin orang yang aku kasihi nanti punya kendaraan semacam itu untuk aku kagumi. Sekarang, aku suka mobil-mobil yang kuno. VW kodok, jeep, mini cooper, dan sebagainya. Duniaku memang kerap berbalik.

Lalu, bagaimana bisa aku bertemu seseorang, yang jelas-jelas lain dari apa yang aku inginkan, dan tetap jatuh hati?

Sebenarnya, ketika jatuh cinta, apa yang manusia jatuh cinta-i?

Faktor apa yang membuat manusia jatuh cinta?

.............

"Tunggu. Jadi bisa dibilang, orang yang kamu sukai itu kutu buku, nggak suka olahraga, pelukis, pemain musik, sekaligus penggemar automotif?"

"Eh. Hmm. Nggak juga sih. Kalau kayak gitu, berarti aku bakalan jatuh cinta hanya dengan fantasiku, dong. Rasanya, sekarang aku nggak ngelihat semua itu lagi."

.............

"Ya sudah. Pokoknya jangan lupa, siapapun orang yang kamu jatuh cinta-i nanti, orang itu harus membimbing kamu menjadi lebih baik, menggunakan cinta di jalan yang benar. Taat sama Tuhan dan bisa menjadi imam, untuk kamu dan untuk keluargamu."

:)

I do wanted to....

Saya ingin mengeksplorasi dunia, terutama dunia yg dimiliki oleh pribadi setiap individu dalam dirinya. 
Filsuf/writer/journalist/chemist? 
Hope whatever it is, it'll lead me to the best.
I'll just let my pray answer it.

Glow in the Dark


"Daridulu kok nggak ada kemajuan. Takut, kok, sama gelap. Takut itu sama Tuhan."

"Bukan takut, fobia."

"Alasan. Fobia, takut, you name it, sama aja."

"Beda. Saya takut sama Tuhan, tapi saya tidak mungkin fobia Tuhan. Beda kan?"

"Dengerin, ya. Sesuatu yang kamu takutkan itu pasti akan kamu hadapi suatu hari nanti. Kalau kamu meninggal nanti, kamu pikir alam kubur itu akan seperti apa? Nggak seperti tempat dugem yang penuh lampu warna-warni, Mbak. Malah, berlipat kali gelap dunia. Dan kamu nanti akan sendirian menghadapinya. Disini masih ada teman-temanmu yang bisa merangkul dan menghibur kamu. Di sana?"

"Kamu niat nggarai saya tambah takut?"

"Nggak gitu. Kamu pasti ingin bersinar terang di alam sana, kan? Bisa, bisa. Asal amal perbuatanmu di dunia baik, disana pasti kamu akan glow in the dark, diberi jalan dan penerangan. Apa kamu nggak mau glow in the dark di alam sini juga?"

"Caranya gimana?"

"Gampang. Sesuatu yang akan kamu hadapi nanti itu, kalau bisa dihadapi dari sekarang, ya dibiasakan untuk dihadapi dari sekarang. Pasti bisa. Pelan-pelan, asal jalan dan terus berlatih. Mantapkan keyakinanmu, kamu nggak bakal apa-apa, nggak akan ada kegelapan yang nyulik kamu. Saya nggak sabar menantikan versi baru kamu. Versi kamu yang tahan menghadapi gelap. Versi glow in the dark-mu."

"......"

Outpouring of Feelings


I am the type of person that sometimes denied my own words because of unimportant things.

I get shy pretty easily. I always dealing with doubts, when actually I just wanted to give a shout about what's going on in my mind.

I burn my spirit up then let it drowned by life.

I did things then I regret it.

I am a fool and I mean it.

You know, sometimes life is funnier than the comedy it brings. When the universe's spinning around from it axis, that's when your life-changing possibility swoop down. That's why people said you can't always be on top, the next round you'll taste bottom. For 16 years, I wish I could taste the upper side. Because I'm tired, exhausted, weary, you name it... for being down over and over again.



Oh, self. Be grateful more, will you?

One Year Left


Ditulis pada tanggal 5 Juli 2012, di SMA Negeri 2 Surabaya yang tercinta.


Hari ini, di tengah masa pembekalan MOS, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak jangkung berbaju necis yang menggandeng anak perempuan kecilnya. Dengan santai bapak tersebut menelusuri lorong Smada, sambil terus mengobrol dengan anaknya yang cantik nan putih luar biasa itu.

"Wah, panas nian Surabaya ni. Oh iya, bagus ya, Nak, sekolahku? Dulu nggak kayak gini lho, Nak..." ujar sang Bapak riang sembari berusaha membuka kelas 12 ipa 3. "....dulu itu... Lho, kelasnya dikunci. Yah, padahal Bapak ingin menunjukkan kelas ini ke kamu, Nak. Dulu kelas terakhir Bapak disini." lalu menolehlah beliau ke arahku.

"Mbak, mbak! Boleh minta tolong..." Bapak itu mengeluarkan kamera digital berwarna silver. "Fotokan saya dan anak saya di lorong ini, nggak, Mbak? Saya kangen benar dengan sekolah ini. Tinggal pencet tombol di atas itu untuk memotretnya. Boleh? Terimakasih, Mbak. Ayo, Nak," Bapak itu menghela napas sambil mendekatkan posisi anaknya. Logatnya kental terasa, bukan logat orang Jawa.

Setelah beberapa kali berfoto, Bapak itu mengucapkan terima kasih dan berlalu. Sayup-sayup kudengar suara anak perempuannya berkata, "Pa, Papa, kok nggak foto di kelasnya aja sih Papa, kok nggak minta dibukakan aja kelasnya, Papa?"

"Nggak bisa Nak, gimana lagi. Sungkan sama mbaknya." untuk yang kesekian kalinya, Bapak tersebut menghembuskan napas, berat. "Kangen sekali sama sekolah ini..."

Lalu mereka pergi, meninggalkan nada-nada rindu yang masih menggantung.

Aku tertegun. Sekelumit perasaan yang halus merasuki diriku. Setahun lagi....



Aku pasti akan sangat merindukan almamaterku ini.

Tawa-nya


Derai tawa seseorang memecah konsentrasiku siang itu. Suara itu. Aku mengingatnya dengan jelas, seperti engkau hafal pasti aroma ibumu.

Tawa yang sama, yang melambungkan semangatku dan menggiring keluar antusiasme dalam diriku.

Tawa yang begitu alami, dengan nada-nada berfrekuensi teratur.

Tawa yang membuatku mengernyit, karena aku tahu, di balik tawa itu ada derita yang tertoreh, dalam.
            
“Selalu saja.” katanya kepadaku.
           
“Selalu apa?”
            
“Selalu saja dahimu berkerut. Selalu saja berpikir.” ia menoyor kepalaku pelan menggunakan buku yang dibawanya, lalu tertawa lagi melihat ekspresiku. “Let go. Santai saja, hidup jangan dibuat susah.”
            
Aku melongo. Bagaimana bisa seseorang tetap menjadi begitu tegar disaat masalah menimpa secara bertubi-tubi? Bagaimana bisa seseorang tertawa padahal sorot matanya berduka?
            
Sungguh, ia tertawa disaat-saat yang salah. Dan aku berharap, dia tidak tertawa sekarang, karena hal itu hanya akan membuatku menangis. Miris.

Promise

I have done many things in my life. Those stupid, priceless, uncountable of unimportant things. Those tied became a memories. A memories that I want to cherish, for the rest of my life. And I won’t let it go.

Story Echoed on my Mind


Pagi ini, aku mengelap cermin seperti biasa. Debu-debu yang menempel kotor dan mengendap karena angin malam itu akan aku usap sampai tak bersisa. Semoga, sejengkal demi sejengkal, noda yang lambat laun hilang ini juga membawa pergi bayangan-bayangan masa laluku yang kelam.

Kemarin, aku melihat seekor merpati putih yang anggun di taman rumah sakit. Aku bertanya kepada langit dan tanah selepas senja. Aku bergumam, mengapa burung hidup dan manusia meninggal. Mengapa kadang kala manusia hidup, namun makhluk lain tiada.

Tak ada jawaban. Aku tak akan pernah memahami siklus.

Ketika jaminan untuk mati sudah kita genggam, apa yang harus kita lakukan? Sungguh aku ingin menampar orang-orang sok tegar yang berkata, “Aku sudah siap, tidak akan sakit, kita akan beristirahat dengan tenang diantara taburan bunga dan kebahagiaan”. Bagaimana mereka menyikapi hal ini dengan begitu pasti, begitu yakin?

Aku diajari dan memahami, bahwa suatu saat nanti, saat Kematian datang menjemputku, aku akan sendirian. Di alam kubur, akan begitu gelap sampai-sampai cahaya pun tidak akan ada artinya. Bila di dunia fana ini saja aku fobia gelap, lalu apa yang akan terjadi nantinya? Bisakah kita mengalami kematian setelah kematian?

Aku takut ditinggalkan, namun aku lebih merinding untuk meninggalkan. Terkadang, ketika aku tidur, aku mendengar suara-suara berbisik lirih, “...lebih baik, rasa sakitnya akan cepat hilang. Kita juga harus ikhlas. Disana dia tidak akan kesakitan lagi. Dia bisa tertawa, tersenyum, berlari lagi.”

Kalau disana aku tidak dapat melakukan hal-hal yang kucintai seperti di dunia ini, bagaimana? Kalau disana aku bahagia namun tidak bertaut dengan keluargaku seperti sekarang, harus bagaimana?

Aku ingin waktu. Aku menginginkan waktu lebih banyak, sekaligus waktu lebih sedikit agar aku dapat kembali ke masa lalu dan menyelami kehidupan mudaku tanpa rasa penyesalan sedikit-pun.

Aku tahu, itu semua tidak mungkin.

Jadi pagi ini, aku kembali mengelap cermin seperti biasa. Diiringi dengan rontoknya rambutku dan tersedotnya daging serta energiku. Pagi ini, aku mengelap cermin, dengan harapan semua noda yang ada di cermin itu maupun semua noda yang ada di masa laluku hilang tanpa bersisa, agar aku dapat bahagia. Pagi ini, aku mengelap cermin dan melihat seluruh bayangan yang ada disana habis terusap—termasuk pantulan bayangan dari diriku sendiri.


ditulis pagi-pagi buta, saat sedang sepi dan hanya ditemani merpati di taman rumah sakit.

Another Random Thought

"Part of me hates me, too. Writing this letter forces me to acknowledge that. And when I look in the mirror, I know I’m looking at someone who isn't sure she deserves to be loved at all. I mean that."

What I Feel

I capture this from A Little Thing Called Love movie.
Agree in so many levels.