Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

I Miss my Superteam

Membentuk love ;)


Zizi nyanyi tombo ati =))



Senengane lak mesti, Coboy Junior










................kalian jahat. Kalian tahu kangen? Kalian tahu jahat? Kalian jahat karena selalu, selalu nggarai kangen :')

Should I Give Up?


Another heartless conversation, another “I-didn’t-understand-what-you-were-wanted” act, again, with my most beloved person on earth, sampai-sampai tidak ada cara maupun kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya selain dengan air mata.

Aku iri pada Alif Fikri dalam Negeri 5 Menara. Alif yang orangtuanya ‘memaksa’ ia untuk menjadi santri sementara desakan hatinya hanya di jurusan Teknik di ITB. Alif yang akhirnya menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan, hanya demi orangtuanya. Alif yang pada akhirnya menemukan keluarga dan sahabat baru dengan berkelana. Alif yang menuruti dua orang yang paling ia cintai, dan pada akhirnya ia sukses—walau tersiksa dalam proses awalnya—baik secara batiniah maupun lahiriah.

Aku ingin melakukan apa yang Alif lakukan, tapi entah kenapa ada suara-suara dari perasaanku yang mengatakan kalau aku tidak bisa. Bahwa dari setahun yang lalu, aku sudah membuat keputusan yang salah. Suara itu berujar, kalau sampai 4 tahun kedepan aku memaksakan kehendak, aku tidak bisa membayangkan lagi, betapa kacaunya aku kedepannya.

Berkali-kali argumen ini terjadi. Berkali-kali aku tidak pernah menang. Sekali aku berusaha menerapkan cara menang-menang, which means nobody lose at the debate. Aku berusaha menunjukkan kakak kelasku yang masuk ke jurusan yang tidak ia inginkan lalu menjadi ‘gila’, tidak betah, frustasi, di tahun pertamanya. Respon yang kuterima: “Lihat saja nanti kedepannya kalau dia udah sukses. Pasti dia akan berterimakasih sama orangtuanya.” Respon yang kubalas: “Baiklah.”

Ternyata tidak sampai beberapa bulan yang lalu, kakak kelasku itu sudah berbahagia. Menapak dunia dengan percaya diri lagi. Karena sudah pindah ke jurusan yang benar-benar ia perjuangkan.

Aku takut. Takut akan menjadi seperti kakak kelasku itu pada tahun-tahun yang menentukan di masa depan. Takut Tuhan akan menghukumku karena tidak berkaca pada pengalaman yang sudah Ia sodorkan.

Karena sesungguhnya, aku tidak ingin menjadi seperti Alif Fikri. Aku ingin menjadi seperti Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara.

Apa yang aku inginkan di masa depan adalah lebih banyak buku, lebih banyak ilmu mengenai bahasa dan bagaimana bisa membuat mereka gemulai di atas secarik kertas, memainkan mereka dengan merdu, juga mengolah mereka agar sedap untuk dihidangkan. Tulisan selalu mempengaruhiku. Tulisan itu universal. Meskipun aku tidak mempunyai bakat di bidang ini, tapi minatku meluber memenuhi pikiranku, setiap hari.

Dengan tulisan, aku merasa aku menghargai diriku sendiri dan dapat membantu masyarakat. Aku suka bertualang di setiap cerita dan pengalaman, lalu mengolah rangkaian huruf yang tepat untuk membuat orang-orang mengabadikan, mengingat, menjaga kenangan mereka dengan membacanya. Aku suka membantu mendengarkan keluh kesah dan merasa tersanjung kalau kata-kata yang kupilih dapat menyapu perasaan negatif dan menarik rasa yang lebih baik.

Dengan kata-kata, aku bisa berkelana kemanapun aku mau, ke dunia dimana tak seorang pun pernah mengunjunginya, ke kota dan pulau dengan namaku sebagai pemiliknya, sementara tubuhku tetap diam dan duduk di tempat.

Tidak bisakah aku untuk merasakan bahagia di dunia yang kupilih? Dunia yang pasti tidak akan membuatku bangkrut. Dunia yang tidak akan memecatku ataupun meninggalkanku. Dunia yang tidak menganggapku sebagai butiran kerikil di tapak sepatu.

Tidak boleh ya aku menganggap serius duniaku, bukan hanya sekadar hobi? Memang, duniaku bisa dipelajari secara autodidak. Ilmu murah, kalian bilang. Tidak menguntungkan. Tapi, dualitas selalu berlaku. Ada sisi negatif dan positif di semua dunia, Yah, Bu. Dan aku tidak mau menghabiskan masa hidupku dengan menyesal di sisi negatif dari dunia lain. 

Aku sayang kalian. Semoga suatu saat kalian mengerti.

Hear Us Sing!

Listen it here:


I love you, Instagirl Instagram 



and, well, in case you wanted to know so badly about the idol in my class.... click here :p :p

Orang Tersabar di Dunia

Dari dulu, aku merasa mempunyai tiga orangtua. Satu Ibu, satunya Ayah, dan yang terakhir, ada Pakde.

Sejak dari aku lahir, Pakde sudah bersama-sama dengan keluarga kecil kami yang terdiri dari lima orang. Pakde selalu ada, biasanya hanya untuk mengecek apakah kami, tiga keponakannya yang masih kecil ini sudah makan, ataukah ada keperluan yang bisa ia belikan untuk kami pada hari itu.

Dari kecil, aku dimanja. Kalau sedang tengkar dengan Ayah, dan Ibu tidak bisa diajak berkompromi, selalu ada Pakde. Pakde tidak pernah marah. Satu kali pun, tidak pernah. Dulu saat aku sedih, aku suka berlari-lari lalu memeluk kaki Pakde dari belakang, dan tidak mau kulepas lagi. Saat aku nggondok dengan Ayah-Ibu, biasanya Pakde cuma diam sebentar lalu berkata, "Nanti mau dibeliin es krim kalau Pakde keluar?". Semua itu rasanya seperti suplemen kekuatan hari demi hari, suatu rasa nyaman yang menjamin aku untuk tidak pernah merasa sendiri, karena ada Pakde.

Karena Ayah dan Ibu sibuk, aku selalu bersama Pakde, baik berangkat maupun pulang sekolah, baik pergi ke tempat les sampai ke mal untuk mencari keperluan-keperluan. Selalu.

Pertama kali aku melihat Pakde marah adalah saat aku kelas 1 SMP. Saat itu, beberapa menit sebelum pulang sekolah, aku tanpa ijin (karena handphone-ku mati) digonceng oleh temanku untuk pergi ke rumah sahabatku karena ia sedang tertimpa musibah. Aku begitu khawatir dengan sahabatku sampai tidak memikirkan hal-hal lain. Saat kembali ke sekolah, rasanya jantung sempat berhenti berdenyut sedetik melihat mobil Panther Pakde sudah terparkir di halaman. Lalu datanglah Pakde, dan sepanjang perjalanan pulang aku menahan tangis karena sudah membuat Pakde marah setelah sekian tahun lamanya.

Banyak sekali hal yang tidak bisa dijabarkan mengenai Pakde-ku, orang tersabar di dunia, orang yang paling kusayangi kedua setelah orangtuaku. Aku harap, beliau sehat selalu, sehingga aku bisa terus bersama-sama dengan Pakde, selama mungkin. Semoga kedepannya, aku bisa membahagiakan Pakde, seperti Pakde selalu membuatku tertawa disaat aku merasa capek, baik fisik, pikiran, maupun hati. Aku harap, kedepannya aku bisa ganti merawat dan mengerti Pakde, seperti beliau merawat dan mengerti aku semenjak aku masih bayi sampai sudah mau kuliah seperti ini.

J'aime, Pakde 

...............................................

Aku, waktu masih umur 5 tahun, pada sebuah sore di garasi, di gendongan Ibu.

"Ma, Pakde kalau nyetir kok lambat banget sih?"

"Nyetir apa?"

"Ya itu Ma, kalau lagi naik motor sama Pakde, Frea mesti disalip sama mobil-mobil. Kalau lagi naik mobil, motor-motor rebutan ngeeeng ngeeeng ngelewati mobil Pakde. Maunya yang cepet Ma."

"Itu tandanya, Pakde sayang sama kamu. Pakde pelan-pelan itu, supaya lebih hati-hati dan gamau kamu kenapa-napa."



.............speechless kalau ingat-ingat ini. I really love you, Uncle, I did.

Being a Jurnalis Smada: Pride.

Detcon. So proud for giving something for Smada, also at the same time felt sorry for not bringing Smada into Best School category.

Always love campaign time. Miss that moment.

Me and mas fotografer terbaik Detcon :p

Aha! Our first project! Mading Yamaha.

Beloved Superteam that always placed on top in my heart.

Diklat Jurnalistik-Fotografi 2012.

Pengalungan ID card sewaktu diklat. Kinda love these photos.




Demo Ekskul, Minggu, 15 Juli 2012, SMA Negeri 2 Surabaya.


Smada Journalist's Crew tahun ajaran 2011-2012, khusus kelas 11


 
Stand Jurnalistik



 
Erdi (salah seorang anggota Jurnalistik, red.) sekarang jualan pentol. Jurnalistik dapet gratis pentol satu gelas lho. Gak rugi deh masuk jurnalis :p



Kinda proud to hold that poster in my hands. 


Smada Journalist's Wall of Fame


What I called 'family'

Begitu banyak yang telah kita lalui. Begitu banyak cerita, keceriaan, kekecewaan, dan diatas semuanya, kebersamaan. Aku harap kita dapat terus menjalin silaturahmi seperti ini seterusnya.



Whatever my future will be, they'll always be an important part of me.
I love you guys, always, ever.
Thankyou for everything we've shared. They'll remain forever, on this tiny little heart. :)